Dari proyek hobi di masa liburan Natal hingga salah satu bahasa pemrograman paling populer di dunia.
Pendahuluan
Python kini dipakai di mana-mana: pengembangan web, analisis data, kecerdasan buatan, otomatisasi, hingga riset ilmiah. Namun, bahasa ini tidak lahir dari rencana besar sebuah perusahaan teknologi. Python bermula dari proyek pribadi seorang programmer asal Belanda yang ingin membuat bahasa pemrograman yang sederhana, mudah dibaca, dan menyenangkan digunakan.
Latar Belakang: Dari Bahasa ABC
Pencipta Python adalah Guido van Rossum, seorang programmer kelahiran Belanda. Pada awal 1980-an ia bekerja di Centrum Wiskunde & Informatica (CWI) di Amsterdam. Di sana ia terlibat dalam pengembangan bahasa pemrograman ABC, yang dirancang sebagai bahasa pengajaran dan pemrograman yang mudah dipelajari pemula.
ABC memiliki banyak gagasan bagus, seperti sintaks yang bersih dan tipe data tingkat tinggi. Namun, ABC dinilai kurang fleksibel, sulit diperluas, dan tidak memiliki cara yang mudah untuk berinteraksi dengan sistem operasi. Pengalaman ini memberi Guido pelajaran penting tentang apa yang harus dipertahankan dan apa yang harus diperbaiki dalam sebuah bahasa pemrograman.
Selain itu, Guido juga terlibat dalam proyek sistem operasi terdistribusi Amoeba. Ia membutuhkan bahasa skrip yang dapat dipakai untuk tugas administrasi sistem, dan bahasa yang ada saat itu tidak memenuhi kebutuhannya. Dari sinilah muncul keinginan untuk membuat bahasa baru.
Kelahiran Python (1989)
Pada Desember 1989, saat kantornya tutup selama libur Natal, Guido memutuskan untuk mengisi waktu dengan memulai sebuah proyek: membuat interpreter untuk bahasa skrip baru yang ia bayangkan sebagai penerus ABC. Bahasa ini diharapkan menarik bagi para peretas Unix dan programmer C, tetapi tetap mudah dibaca.
Asal Nama "Python"
Banyak orang mengira nama Python berasal dari hewan ular. Padahal, Guido menamainya dari acara komedi televisi Inggris "Monty Python's Flying Circus", yang ia gemari. Ia menginginkan nama yang pendek, unik, dan sedikit misterius. Meski begitu, logo Python yang kemudian dikenal luas memang menggunakan gambar ular.
Perjalanan Versi Python
Python 0.9.0 (Februari 1991)
Rilis publik pertama diumumkan pada Februari 1991. Versi ini sudah memiliki fitur penting seperti kelas dengan pewarisan, penanganan kesalahan (exception), fungsi, serta tipe data inti seperti list, dict, dan str.
Python 1.0 (Januari 1994)
Versi 1.0 menambahkan alat pemrograman fungsional seperti lambda, map, filter, dan reduce. Pada masa ini komunitas Python mulai tumbuh.
Python 2.0 (Oktober 2000)
Python 2.0 memperkenalkan list comprehension dan pengumpul sampah (garbage collector) berbasis siklus. Pengembangannya juga mulai lebih terbuka dan melibatkan komunitas. Pada 2001, berdiri Python Software Foundation (PSF), organisasi nirlaba yang mengelola hak kekayaan intelektual dan mendukung perkembangan Python.
Python 3.0 (Desember 2008)
Python 3.0 adalah pembaruan besar yang sengaja tidak kompatibel ke belakang dengan Python 2. Tujuannya membersihkan kekurangan desain lama, misalnya penanganan teks Unicode yang lebih baik dan perubahan pada fungsi print. Transisi dari Python 2 ke Python 3 memakan waktu bertahun-tahun, dan dukungan resmi untuk Python 2 baru berakhir pada 1 Januari 2020.
Filosofi Python
Python dikenal dengan filosofi desain yang dirangkum dalam "The Zen of Python" oleh Tim Peters. Beberapa prinsipnya antara lain: indah lebih baik daripada jelek, sederhana lebih baik daripada rumit, dan keterbacaan itu penting. Kamu dapat melihatnya dengan mengetik import this di interpreter Python.
Python juga menggunakan indentasi untuk menandai blok kode, sehingga kode cenderung rapi dan seragam. Panduan gaya penulisan kode Python dijelaskan dalam PEP 8, dan perubahan bahasa diusulkan lewat proses PEP (Python Enhancement Proposal).
Kepemimpinan dan Komunitas
Selama bertahun-tahun, Guido dijuluki BDFL (Benevolent Dictator For Life), yaitu pemimpin yang memiliki keputusan akhir atas arah Python. Pada Juli 2018, setelah perdebatan panjang seputar PEP 572 (operator walrus :=), ia mengundurkan diri dari peran tersebut. Sejak itu, Python dipimpin oleh sebuah dewan yang disebut Steering Council, yang dipilih oleh para pengembang inti.
Guido sendiri tetap aktif di dunia teknologi dan pernah bekerja di Google, Dropbox, dan kemudian Microsoft.
Mengapa Python Menjadi Populer?
Beberapa faktor yang membuat Python berkembang pesat:
- Sintaks sederhana sehingga mudah dipelajari pemula.
- Pustaka yang kaya, baik bawaan maupun pihak ketiga, seperti NumPy, pandas, Django, Flask, dan TensorFlow.
- Serbaguna, dapat dipakai untuk web, data, AI, otomatisasi, dan banyak lagi.
- Komunitas besar dan terbuka yang aktif berbagi pengetahuan.
- Gratis dan bersumber terbuka, dengan lisensi yang ramah penggunaan komersial.
Lonjakan minat pada sains data dan machine learning sejak 2010-an semakin mengukuhkan posisi Python sebagai bahasa utama di bidang tersebut.
Penutup
Dari proyek iseng di liburan Natal 1989, Python tumbuh menjadi bahasa pemrograman yang mendunia. Keberhasilannya tidak lepas dari visi Guido van Rossum tentang kode yang mudah dibaca, serta kontribusi komunitas global yang terus mengembangkannya. Sejarah Python menunjukkan bahwa gagasan sederhana, bila dirawat dengan baik dan dibuka untuk banyak orang, bisa mengubah dunia teknologi.